-->

Episode 5 - Penyerangan Ke Kerajaan Noesatembini

Para prajurit Pajajaran mulai bergerak maju memasuki keraton Noesatembini dengan maksud untuk menangkap Ratu. Apa yang kemudian terjadi, betapa tercengangnya prajurit-prajurit Pajajaran ketika menangkap sang Ratu.

Putri Noesatembini itu dengan lincahnya meloncat ke punggung kuda sembrani dan seperti kilat membubung ke angkasa. 
kuda sembrani ratu brantarara noesatembini
Ilustrasi Ratu Brantarara yang menaiki Kuda Sembrani

Dengan suara lantang Ratu Brantarara menantang prajurit-prajurit Pajajaran. “Hai prajurit Pajajaran, tunjukkanlah kesaktian dan kejantanannya dan tangkaplah diriku!. Kalau dapat menangkap diriku, aku tunduk dan Kerajaan Noesatembini kuserahkan kepadamu!”.

Kemudian di samping itu, patih Harya Tilandanu masuk ke dalam keraton Noesatembini. Ketika sedang menjelajah ruang demi ruangan, dalam sebuah kamar oleh Patih Harya Tilandanu dilihatlah sesosok wanita yang sangat cantik, menurut keyakinan sang patih, itulah sang Ratu Brantarara, penguasa Noesatembini, maka sang Patih Harya Tilandanu mendekati wanita cantik itu.

Hati sang Patih bergejolak ingin menjamahnya. Sebelum maksud itu terlaksana, lenyaplah wanita cantik itu dan berubah menjadi “golek kencana” (boneka emas). Dengan hati yang gemas, sang patih akan memegang golek itu.

Tiba-tiba saja benda berkilau seperti emas itu melejit meyentuh dan jatuhlah sang patih.
Benda berkilau itu menyebabkan sang patih menjadi buta. Dengan terjadinya peristiwa itu, maka usaha utusan Pajajaran untuk mendapatkan air mata kuda sembrani menjadi gagal.

Untuk kembali ke Pajajaran tanpa hasil, para utusan sangatlah takut, karena sewaktu Raja Pajajaran memberikan perintah untuk pergi ke Noesatembini disertai ancaman-ancaman hukuman berat yang disampaikan oleh Raja.

“Kalau para utusan itu kembali dengan tangan kosong, akan diberikan hukuman yang sangat berat”.

Oleh karena itu kemudian para utusan Pajajaran itu menetap di daerah Noesatembini. Sedang Patih Harya Tilandanu akibat sakit dan kedua matanya menjadi buta akhirnya meninggal dan dimakamkan di Gunung Batur. (Sekarang, Daerah Gunung Batur terletak di daerah sekitar slarang, kecamatan Kesugihan).

Kecuali sang Patih, utusan lainnya seperti Adipati Gobog setelah menetap sekian lama di daerah Noesatembini juga akhirnya meninggal dan dimakamkan di sebuah tempat yang terkenal dengan sebutan “Makam Adipati Gobog”(Letaknya sekarangdi sebelah selatan Jalan Jend. Sudirman, tidak jauh dengan pasar Sleko. Nama Adipati Gobog pernah menjadi nama jalan utama di Cilacap sebelum kemudian menjadi Jalan Jend. Sudirman).

Oleh sementara penduduk Cilacap dan sekitarnya makam tersebut sampai sekarang masih dikeramatkan. Seorang utusan lainnya yang bergekar Adipati Sendang, makamnya sekarang terdapat di Grumbul Prenca Kelurahan Donan.(Dahulu dekat dengan sebuah pasar yang disebut dengan Pasar Sendang). Arah dari tempat ini adalah pada bagian timur dari Bengawan Donan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Episode 5 - Penyerangan Ke Kerajaan Noesatembini"

Posting Komentar

Terimakasih mengirim komentar, Anda akan mendapat tanggapan dari kami secepatnya, Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel